hai....semua butuh Pidato caranya gampang, tinggal klik
Jumat, 08 April 2005
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
apakah kalian kesulitan dalam mencari materi tugas,

BUKAN TIPEKU
Oleh : Fitriana
3IPA4/SMUN2/XVI/III/2008

Di tunggu!” Aku tetap berjalan, Berpura-pura tidak mendengar suaranya.
Kenapa sih orang ini biasanya gangGu aku terus?
Pipiku memanas saat mengingat insiden barusan.
Ya Tuhan, kenapa aku harus kenal dia sih?
“Adia!” panggilnya lagi, kali ini panggilanya di ikuti cengkraman
tanganya di pergelangan tanganku dan aku berusaha mengacuhkannya,
tapi ia sudah bediri tepat di hadapanku, siap menghalangi setiap langkahku.
“Minggir,”perintahku dingin, menolak menatap matanya.
Dia tetap bergeming. Aku berusaha melangkah ke kanan.
Begitu pula saat aku mencoba ke kiri. Aku mengangkat kepala untuk
melototinya, kejengkelanku semakin memuncak saat aku melihat cengiran
tolonya masih menempel di wajahnya.”
Enggak liat orang mau jalan, ya?Minggir.”Aku berusaha untuk tidak
membentaknya, karena tidak ingin menarik perhatian orang.
Sekarang saja orang-orang sudah menatap kami dengan penasaran.
‘Kamu marah,ya?”tanyanya.
Aku memutar bola mataku.
“masih perlu Tanya?”tanyaku balik sambil melipat kedua tanganku
di depaan dada.Aku tidak tau kenapa aku begitu marah, padahal aku bisa
mengacuhkan segala macam gangguan dengan mudah. Namun Adam bukan
Cuma gangguan biasa. Dia itu seperti nyamuk yang selalu mendengung
di telingaku. Kamu mengibas-ngibas tanganmu untuk mengusirnya, dan
kadang dia akan pergi, tetapi di jamin dia akan kembali lagi dalam hitungan
menit, bahkan detik.
“Maaf deh,Di, tapi aku gak tau kenapa kamu marah. Aku
”bilangnya sambil berlagak kebingungan. Ingin rasanya aku melemparkan tas di tanganku ke kepalanya, tetapi mengingat kami berada di lapangan parkir sekolah dan aku bisa kena masalah besar kalau melukai salah satu murid, aku hanya memelototinya.
“Kalau itu caramu serius, aku benar-benar enggak mau tahu cara becandamu kayak apa.
Lagipula, kamu enggak perlu susah-susah minta maaf. Aku enggak bakal maafin kamu,” kataku setenang yang ku bisa. Kalau aku ulangi lagi sekarang, kamu bakal percaya enggak?”tanyanya.
Aku enggak bisa mengerti kenapa dia enggak menyesal saja. Biar pun aku percaya dia serius, itu enggak akan mempengaruhi jawaban akhirku.
“Mungkin aku bakal percaya, tetapi jawabannya tetap enggak,”jawabku. Sekali lagi aku mencoba melewatinya, tetapi sekali lagi mencengkram lenganku, tetapi tidak cukup kasar untuk melukaiku. Dari pojok mataku, aku bisa melihat beberapa orang yang terang-terangan menonton kami. Usahaku untuk melepaskan diri sia-sia saja dan aku nyaris meembentaknya, tetapi kata-kata ku terhenti saat aku melihat ekspresi di wajahnya. Matanya yang hitam legam menatap langsung ke dalam mataku, tawa yang ada di dalamnya lenyap. Cengingiran konyol itu juga sudah terhapus dari wajahnya.
“Kenapa enggak?”tanyanya. suara rendah dan dia terlihat…kecewa? Mungkinkah dia kecewa karena aku?Itu terlalu tidak masuk akal.
“Karena, Adam, kamu bukan tipeku,” jawabku singkat sambil menarik lenganku.
Aku membalikan badan dan langsung meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Betapa leganya aku saat melihat motorku terparkir di dekat pintu keluar. Kakakku datang dengan sigap aku langsung pulang. Satu lirikan ke kaca spion memberitahuku bahwa Adam sudah pergi. Aku menarik napas dengan lega, kelelahan. Aku berusaha tidak memikirkan Adam dan apa yang di lakukan tadi siang, tapi memori it u terus terulang di kepalaku sepeerti film rusak.
* * * * *
Jam pelajaran Fisika pagi ini kosong karena Bu Ana sedang sakit. Beberapa anak, termasuk aku, memilih untuk mengerjakan tugas yang di tinggalkan Bu Ana. Beberapa anak lain, termasuk Adam, memilih untuk bercanda dan ngobrol sendiri, terutama tidak ada guru pengganti. Adam dan gerombolannya duduk di pojok, tertawa dan bicara keras-keras. Sesekali kata-kata umpatan meluncur dengan mudahnya dari mulut mereka. Kurasa itu yang membuatku memandang rendah Adam dan kroninya. Mereka mengucapkan kata-kata kotor semudah mereka mengganyam makanan enak.
Kegaduhan mereka sejenak mereda, namun tawa mereka meledak lagi. Samara-samar aku mendengar mereka berbisik-bisik di selingi tawa, namun pada saat itu aku tidak memepdulikan tingkah mereka itu. Tentu saja, waktu it aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba saja Johna, salah satu teman Adam, berseru,
“Oi teman-teman, tenang dulu ya. Adam punya pengumuman penting, nih”Teman-temanya bertepuk tangan dengan penuh semangat sambil tertawa-tawa. Anak-anak lain sambil bertukar pandang dan mengangkat bahu, tidak bisa menebak apa yang akan di lakukanya, dan bersiap-siap mendapatkan tontonan geratis. Aku dengan keras kepala menolak memperhatikan, walaupun Belinda sudah menyikut tanganku.
“Dia, dia kesini!” bisik Belinda.
Aku mengerutkan kening padanya, lalu menoleh kearah Adam. Firasat ku langsung tidak enak saat matanya bertemu mataku, dan langkah kakinya benar-benar mengarah ke mejaku. Kelas mendadak sunyi, dan badanku menegang. Apapun yang di laukan Adam bukan sesuatu yang aku sukai.
Kelas mendadak sunyi,
dan badanku menegang
Apapun yang di lakukan
Adam bukan sesuatu yang aku sukai
Dia dengan segera sudah berdiri di depan mejaku. Aku menaikan satu alis kepada Baelinda, bertanya-tanya. Belinda mengangkat bahu, namun sebuah senyum terbentuk di bibirnya seolah-olah dia sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Adam. Adam menunduk untuk menatapku, dan aku membalas tatapannya. Di lubuk hatiku, aku bisa menebak apa yang akan di katakana, namun aku menolak mempercayainya.
Tidak ada ekspresi ragu-ragu atau malu saat dia mulai bicara. Suara lantang, memastikan seluruh kelas bisa mendengarkan kata-katanya.”Aida, aku sayang kamu. Mau enggak jadi pacarku?”
Seisi kelas langsung riuh rendah sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, yang cowok bersuit-suit dan bertepuk tangan sementara yang cewek cekikikan dan ikut menyoraki Adam. Aku? Aku merasa seperti di sirami air es. Rasa kaget di ikuti dengan rasa kemarahan saat Adam nyengir lebar kepada teman-temannya.
Dia tidak serius, semua ini hanya main-main dia hanya melakukan tantangan dari teman-temannya. Segera setelah aku jawab, ia atau tidak, dia akan kembali pada teman-temannya dengan puas karena sudah berhasil melalukakan tantangan itu. Adam tidak mungkin menyukai aku, dan sudah jelas aku tidak menyukainya.
Aku menatapnya lurus-lurus sebelum aku berkata”enggak”. Seisi kelas langsung sunyi lagi, dan sekilas aku mengira Adam terlihat terpukul. Namun dengan cepat senyum lagi mengangkat bahu.
Dan aku menyesali kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti dia. Sejak pertama kali bertemu, aku tahu Adam bukan tipe cowok yang bisa jadi temanku. Sifatnya yang urakan dan nilai-nilainya yang selalu kebakaran cukup untuk membuatku menjauh darinya.
Semenjak itu, Adam berhenti menggangguku…. Dan untuk seterusnya Adam tetap bukan tipeku. Dan sekarang aku sudah mememukan seseorang yang bisa menjadi teman sekaligus menjadi pacarku…
Assalamualaikum.Wr.Wb
Kepada bapak guru yang saya hormati teman-teman sekalian yang saya banggakan, sebelumnya puji dan syukur atas kehadirat Allah Swt yang telah memberikan karunia, kenikmatan, serta kemudahan dalam segala aktivitas kita sehari-hari baik di dalam kelas ini maupun di luar. Dan tak lupa selawat dan salam kita hantarkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw yang telah menuntun kita dari zaman kegelapan menuju dunia yang terang benderang.
Pada kesempatan ini saya sedikit memberikan atau menyampaikan isi dari pidato saya yang mungkin masih sangat kurang dan mungkin jauh dari kesempurnaan. Khalayaknya manusia tidak ada yang sempurna, kita kembalikan kepada yang memiliki kesempurnaan tersebut Allah Swt. Dalam pidato ini, saya akan menyampaikan kepada teman-teman sekalian bahwa ujian nasional sebentar lagi mengingat hal tersebut banyak peluang dan kesempatan yang bisa kita lakukan untuk menghadapi ujian yang nantinya pasti akan kita hadapi.
Teman-teman perlu ketahui ujian nasional menjadi tantangan tersendiri buat kita semua di mana yang sekarang ini berbeda dengan tahun yang sebelumnya dan yang biasanya di bedakan dengan standar nilai kelulusan, sekarang yang saya dengar tidak hanya standar kelulusan tetapi jumlah mata pelajaran yang di ujikan lebih banyak. Mengingat hal tersebut tidak kah di benak teman-teman timbul rasa was-was, rasa takut, dan bingung harus bagaimana??apa tindakan kita, menurut saya teman-teman harus lebih berfikir disiplin dan memanfatkan waktu yang ada dan jauhkan hal-hal yang tidak berguna serta bekerjasama dengan teman atau bapak/ibu guru baik dalam proses belajar mengajar ataupun di luar kelas seperti diadakanya belajar tambahan, kelompok belajar dan lain-lain yang bersifat formal, tidak itu saja kalau ada pendapat lain yang bisa di sampaikan oleh teman-teman tentunya dalam persiapan menghadapi Ujian Nasional mungkin bisa di konsultasikan pada bapak/ibu guru, mungkin menurut saya tadi sangat berat untuk di lakukan oleh teman-teman ataupun saya sendiri, karena mungkin sebagian ada yang bertentangan dengan pribadi masing-masing, tetapi saya rasa semuanya sama dan kalau tidak mencoba kita tidak akan tau, karena itu semua untuk kebaikan kita bersama bukan untuk memberatkan diri kita sendiri, tiada salahnya kita fokus pada sekolah untuk sementara ini dan keberhsilan tentu harus ada pengorbanan, semoga apa yang kita lakuakan mendapatkan hasil yang seperti kita inginkan Amin!!.
Demikian apa yang dapat saya sampaikan kurang dan lebihnya saya mohon ma’af .wss.wr.wb!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar